Monday, 26 November 2012

Cerpen Sastra SMA




SAHABAT
atau
"SAHABAT"

 
“Hai, Nad…,” sapaku kepada seseorang yang biasa dipanggil akrab dengan sebutan Nadia.
Tapi sama sekali tak kudengar sepatah katapun keluar dari mulutnya.  Apa ada yang salah dengan sapaanku beberapa detik lalu? Karena kebingungan, akupun tertegun sejenak. Aku berdiri tak bergeming dengan pandangan yang kosong. Kemudian kucoba menyapa teman sekelasku yang lain.
“Siang, Fi…”
Tapi reaksi yang kudapat tak memenuhi keinginanku. Mereka juga tidak membalas sapaanku. Oh Tuhan.. Ada apa dengan teman-temanku? Jangan-jangan aku menyakiti mereka tanpa aku sadari. Dengan langkah gontai, akupun berjalan menuju tempat dudukku yang berada di sudut ruangan. Dapat kurasakan dinginnya tatapan mata yang sedari tadi menghujam punggungku. Begitu pula dengan bisikan kata-kata pedas mereka yang membicarakanku.
“Hei, aku nggak salah!” teriak hati kecilku.
Bodohnya aku… Mengapa aku dilahirkan tanpa keberanian untuk mengungkapkan isi hatiku. Mengapa juga aku tak dapat berbuat apapun dan membalas perbuatan mereka? Aku tak bisa berkonsentrasi. Oh ya, mana Aaron... Aku butuh dia sekarang.
 “Aku tak boleh menangis. Ca... Kamu harus bisa bertahan... Sebentar lagi ia pasti datang...”
Terus menerus kuulang kata-kata itu dalam hatiku. Kurasakan kedua bola mataku terasa perih dan pelupuk mataku tergenang oleh air mata. Aku menoleh ke arah jam dinding yang berwarna hitam itu dan kulihat jarum panjang menunjukkan pukul 10.30. Akhirnya bel pulang sekolah pun berdentang. Aku langsung mengambil Hpku dan menelepon Aaron.
“Aaron... Kamu dimana sih... Kenapa kamu nggak datang ke sekolah... “ kataku dengan sesenggukan.
“Kamu keluar dulu... Nanti baru ku jelaskan...” jawabnya santai.
Tanpa pikir panjang aku langsung bangkit dari kursi dan meninggalkan ruangan itu. Kupercepat langkahku ke tempat parkir. Karena, aku tahu Aaron telah menjemputku dengan AudiR8 silvernya di tempat biasa kami bertemu. Aku melambai & kupercepat langkahku menuju ke arahnya.
“Kenapa tadi tidak masuk sekolah?”
“Ca... Masa kamu lupa ini hari apa...”
“Ya nggak lupa.. Aku tahu... Ini hari Sabtu kan...” jawabku.
“Ya ampun Ca... Ca... Lupa boleh, asal ada batasnya... Hari ini kan kamu ulang tahun. Jadi, sekarang aku akan memberimu ini....” katanya sembari memberiku buket bunga mawar yang sedari tadi ia sembunyikan dibalik punggungnya itu.
“Selamat ulang tahun ya, Ca.” katanya seraya memelukku.
“Terima kasih ya, Ron. Aku senang sekali.”
Setelah itu, kami pergi ke taman kota untuk membunuh waktu. Di sana, kami berdua berbincang-bincang tentang apapun. Pukul 8 malam, Aaron mengantarku pulang.
Sesampainya dikamar, langsung saja buket mawar itu kutaruh di vas yang berisi air agar tidak layu. Aaron memang perhatian, tapi kadang aku merasa ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku. Tapi aku tak perduli akan hal itu, aku percaya kalau ia takkan mengkhianatiku.
Karena tidak mengantuk, akupun chattingan. Di sinilah aku berteman dengan seorang lelaki yang mengaku pemain basket, keren, tinggi, dan pandai. Namanya Aldo. Walaupun semua yang ia katakan sangat berlebihan, tapi aku percaya saja. Aku merasa Aldo sangat baik dan perhatian. Hal itu dapat kulihat dari cara bicaranya ketika sedang bercakap-cakap denganku. Aku jadi merasa nyaman dengannya.

***

Rasanya hari ini aku malas sekali untuk berangkat ke sekolah, mengingat apa yang diperbuat teman-temanku kemarin. Tapi, aku tidak ingin ketinggalan pelajaran karena sebentar lagi ujian. Akhirnya, akupun berangkat ke sekolah dengan malas-malasan. Tetapi, sesampainya di kelas, ada suatu keanehan... Kelasku sudah kembali normal. Kini aku tak seperti di ruangan beranggotakan boneka lagi. Bahkan Nadia yang menyapaku duluan!
“Pagi, Ca.” sapanya dengan senyum yang membuat lesung pipi kirinya terlihat.
“Pagi, Nad... Bukannya kemarin kamu marah sama aku?”tanyaku dengan ekspresi kebingungan.
“Oh, siapa bilang. Mungkin waktu kamu menyapa, aku tidak dengar. Oh ya, ini ada titipan surat dari Aldo.”
“Lho? Darimana kamu kenal dia?”
“Aku saudara sepupunya. Kebetulan kemarin ia menceritakan seseorang yang ternyata kamu.”katanya sambil menggodaku.
“Benarkah? Kamu tidak sedang mengerjaiku kan?” tanyaku curiga.
“Tentu saja tidak.” Jawabnya singkat.
“Ya sudah, aku percaya padamu.”
Di hadapannya, aku membaca surat itu. Surat tanpa tulisan tangan itu terlihat sangat sangat mencurigakan, tapi aku percaya kalau Nadia tidak membohongiku. Jadi langsung saja kutulis surat balasan untuk Aldo yang kutitipkan pada Nadia.

***

Esoknya, sesampainya di kelas, aku menyapa Aaron seperti hari-hari biasanya. Tapi ia tak menjawab, menoleh sedikit pun tidak. Aku jadi bingung. Apa dia sedang bad mood? Perasaan kemarin hubungan kami masih baik seperti biasa. Ketika aku mencoba untuk memanggilnya, tiba-tiba ia berdiri dari tempat ia duduk dan menghadapku dengan muka marah.
“Kenapa kamu seperti ini terhadapku? Kamu senang mempermainkanku? Puas kamu melihat aku marah dan cemburu melihatmu mesra-mesraan dengan lelaki yang baru kamu kenal...?”
Pertanyaan beruntun itu membuatku bingung. Apa maksudnya? Aku tidak pernah mempermainkannya. Aku tidak dekat dengan lelaki selain Aaron. Lalu kenapa...
“Kenapa tidak menjawab! Ini tulisanmu ‘kan!” bentaknya dengan keras sembari membuang selembar kertas.
Kuambil kertas itu dari lantai. Di pojok kanan bawah memang ada tanda tanganku, tapi setelah kubaca surat ini berbeda sekali dengan surat yang kutulis kemarin. Surat ini penuh dengan kata-kata yang mesra, yang bahkan tak kuketahui apa artinya. Tapi tulisannya mirip sekali dengan tulisan tanganku. Apa-apaan ini.
“Ron, aku nggak pernah menulis kata-kata seperti ini. Percayalah padaku...”kataku memohon.
“Tapi aku kenal baik dengan tulisanmu. Ini tulisanmu ‘kan. Sudahlah, kalau kau memang tidak ingin berhubungan denganku lagi. Jadi, lebih baik sekarang kita PUTUS...”jawabnya tegas.
Aku sudah lama kenal Aaron, ia tidak akan menjilat ludahnya sendiri. Jadi aku tahu, aku tidak akan bisa memperbaiki hubungan ini. Siapakah yang telah begitu kejam padaku hingga membuat hubunganku dengan Aaron hancur... Hubungan yang sudah lama kubina dengannya kini benar-benar hancur berkeping-keping. Tak dapat kulihat lagi secercah harapan untuk kembali lagi dengannya. Setelah kejadian itu, esoknya aku pergi ke Beijing untuk melupakan Aaron.

***

Tahun demi tahun berlalu. Kini aku sudah beranjak dewasa dengan menginjak kepala 2. Aku kembali ke Indonesia karena SMA ku mengadakan reuni. Iseng-iseng aku melihat sebuah buku yang berisi komentar para alumni. Kubolak-balik halaman yang ada dan betapa terkejutnya aku ketika melihat tulisan yang sangat mirip dengan tulisanku. Aku tidak pernah merasa menulisnya. Betapa terkejutnya aku ketika mendapati nama yang tertera di pojok  kanan bawah. NADIA. Jadi, waktu itu... Kejam...
“Hai, Ca... Kapan kamu datang?” sapa Nadia yang sedang menggandeng lelaki yang sudah tak asing lagi.
“Aaron... Nadia... Kalian... Jadian?”
“Iya.”jawab Aaron dengan singkat.
“Nad, kamu kan yang waktu itu membohongi aku & Aaron dengan surat palsu yang kamu buat karena tulisanmu mirip dengan tulisanku. Hanya untuk merebut Aaron dariku...”selidik ku.
 “Hahaha... Ca, mana mungkin aku sejahat itu. Kamu sekarang beda. Menuduh orang seenak hati. Ayo say, kita pergi.”
“Tunggu Nad... Apa yang tadi dikatakan Anca benar? Jawab dengan jujur!”
“Ya nggak benarlah, say! Jadi sekarang kamu lebih membela dia daripada pacarmu ini? Ya sudahlah, lebih baik hubungan kita sampai disi...”
Belum sempat Nadia melanjutkan kata-katanya, Aaron langsung memeluknya. Tuhan, kenapa hidup ini sungguh tak adil.
“Tentu saja aku lebih membela pacarku daripada mantanku,” jawab Aaron.
Mendengar kata-kata itu, aku tak sanggup berkata-kata lagi. Kini rasa kepercayaanku benar-benar sudah menjadi serpihan debu yang sudah tak dapat disatukan lagi. Ternyata, temanku sendiri, yang sudah kupercayai, membohongi aku, demi mendapatkan seorang Aaron. Kini, aku bersumpah tak kan pernah mempercayai siapapun, walaupun ia temanku atau pacar sekalipun. Dan aku sendiri tak tahu, kapan ‘AKU’ yang dulu, aku yang selalu mempercayai orang, akan kembali lagi. Karena bila sekarang kulihat diriku sendiri, akupun takut untuk melihatnya, karena aku yang sekarang adalah seorang yang berbeda... Sangat berbeda.